Memuliakan Tamu
Terkisahkan ada
sahabat Nabi yang hidup dalam kekurangan. Ia mempunyai anak yang masih
kecil-kecil. Apa yang menjadi harta bendanya adalah apa yang ia makan dan ia
pakai hari itu, tak pernah berlebih. Meskipun begitu, ia tak pernah mengeluh,
ia selalu mensyukuri apa yang ia makan, ia minum dan pakai setiap harinya. Ia
tetap taat kepada Allah dan Rasul.
Suatu ketika
kedatangan seorang tamu, saat itu hari
sudah beranjak malam. Sambil berbincang-bincang dengan sang Tamu ia berpikir, aku
harus menjamu tamuku apa? Aku tidak punya apa-apa untuk menjamu tamuku. Yang
aku punya hanya sepiring nasi, yang sebenarnya hendk aku berikan kepada
anak-anakku. Tapi aku harus menghormati tamuku. Aku harus mencari ide agar
tetap bisa menjamu tamuku dengan layak.
Hampir setengah jam
sudah ia menemani tamunya berbincang, ia pun mohon diri untuk menidurkan
anak-anaknya. Setelah melihat anak-naknya terlelap tidur, ia pun menyiapkan
makanan yang hanya satu piring itu. Tak lupa ia juga menyiapkan makanan piring
kosong untuk dirinya. Setelah semuanya siap, ia pun memadamkan lampu rumahnya.
Sang Tamu yang berada di ruang tamu
terkejut saat mengetahui lampu di rumah yang ia singgahi tiba-tiba padam. Sang
Sahabat pun menjelaskan bahwa lampu
minyak dirumahnya sedang rusak.
“Mari silakan kita
nikmati hidangan yang saya siapkan. Maaf gara-gara ada sedikit masalah lampu di
rumah saya, kita makan dalam keadaan gelap begini,” jelas si Sahabat sambil
menawarkan makanan yang telah disiapkannya.
“Tak apa kita makan
dalam keadaan gelap. Saya yang mengucapkan terima kasih karena telah mendapat
jamuan yang istimewa ini,” sahut sang Tamu.
Sang Tamu pun makan
dengan sangat lahap, begitu juga dengan si Sahabat. Ia berpura-pura makan
dengan nikmat, padahal apa yang dihadapannya hanyalah sebuah piring kosong.
Selasai menikmati jamuan makan malam yang disediakan si Sahabat, sang Tamu pun
pamit. Ia pulang dalam keadaan yang sangat puas. Disamping dapat
bersilaturrahmi dengan kawan lamanya, ia juga mendapat jamuan makan malam yang
lezat.
Keesokan harinya
Nabi Muhammad saw mendapat wahyu dari Allah Swt, bahwa Allah Swt sangat memuji
si Sahabat atas apa yang telah ia lakukan semalam, ia telah memuliakan tamunya
dengan sangat baik.


0 komentar:
Posting Komentar